Beberapa dekade terakhir ini gelombang pelajar Kadatua yang tamat SMA dan melanjutkan kejenjang perguruan tinggi cukup besar, dibandingkan dulu diera 80an hingga awal 2000an, saat itu mindsetnya masih yang instan-instan langsung kerja, diera 80an misalnya mentok di pendidikan Sekolah Pendidikan Guru (SPG/Setara SMA), kemudian era 90 hingga awal 2000an tamat SMA lalu ikut seleksi Polisi/ABRI.
Jika dicermati hal tersebut tidak terlalu berdampak signifikan bagi kemajuan kampung halaman, yang terasa hanya diinternal keluarga mereka masing-masing ekonomi mereka meningkat karena gaji menjadi guru dan militer tersebut, hingga pada akhirnya seleksi masuk Guru dan Polri/ABRI dibuat ketat oleh pemerintah, perubahan terjadi, banyak anak-anak muda yang tamat SMA pergi merantau dinegeri orang, mencari kerja diantaranya menjadi wirausaha, dan berhasil.
Perlahan Kadatua ditinggalkan, sebagian besar warganya pergi merantau, mengikuti jejak-jejak perantau pertama yang sukses, hingga kira-kira tahun 2008an ekonomi perantau tersebut meningkat, anak-anak mereka memilih untuk melanjutkan ke pendidikan Tinggi. dan disinilah gelombang besar-besaran generasi kadatua dimulai, mahasiswa Kadatua terus bertambah setiap tahun.
Tetapi ternyata masih menyisahkan problem, mereka-mereka yang telah lulus pendidikan tinggi mindetnya masih pola lama, setelah lulus pulang kampung magang dan honor di instansi yang sesuai jurusannya ada yang jadi guru SD, SMP, SMA, dan ada juga menjadi honorer tenaga Kesehatan, harapannya tentu pengabdian mereka bisa membawa perubahan dan kemajuan bagi kampung halaman, inovasi dan ide-ide kreatif bisa diapliaksikan, ternyata tidak juga, instansi dimana mereka magang boleh dibilang hanya tempat mengisi kekosongan untuk menanti pengangkatan menjadi seorang pegawai negeri.
Ini memang ironi, tapi mau bagaimana, risiko hidup di Negara berkembang harus bisa survive dan keluar dari zona nyaman, jika negara tidak bisa mengakodomir para lulusan perguruan tinggi untuk mengakses lapangan kerja, seharusnya para sarjana yang sudah digembleng, ditempa, belajar 4 hingga 5 tahun di kampus bisa menciptakan atau membuat hal yang bisa menghasilkan ekonomi. atau bermitra dengan pemerintah desa atau instansi untuk membuat program dan mengimpelemntasikan gagasan-gagasannya untuk memajukan kampung.
Dari situlah salah satu kegelisahan dan Keresahan saya dan teman-teman untuk membuat Kampung Literasi Kadatua, disini literasi diajarkan sejak dini, anak-anak sekolah SD-SMA diperkenalkan dengan bacaan, melek digital, diskusi, dan tontonan yang inspiratif, agar kemampuan kritis, berjejaring, kepekaan sosial, dan kehausan belajar terus tumbuh, dan terasah, hingga mereka nantinya, ketika masuk perguruan tinggi tidak lagi bingung, secara personal sudah dibentuk dan tinggal memoles dengan memilih jurusan yang mau diambil sesuai potensinya dan minatnya.
*Ditulis oleh LA ODE YUSRAN SYARIF, Pukul 03:13 WIB dikala insomnia melanda.


Mantap e...
BalasHapus