"Didiklah rakyat dengan organisasi, dan didiklah penguasa dengan perlawanan"
Sebuah kutipan yang disampaikan oleh Pramodya Anata Toer dalam bukunya Jejak Langkah, menarik karena kalau dilihat dalam konteks kekinian di Kadatua hari ini khususnya, rakyat bungkam ketika pemerintahan di desa hanya melibatkan mereka sebagai subjek pembangunan, program-program dan kebijakan yang dijalankan tidak berdampak besar bagi kemajuan khususnya di bidang ekonomi, masyarakat kadatua masih keluar daerah, pergi merantau karena didaerah sendiri tidak ada sumber-sumber daya yang bisa dikelola.
Olehnya itu, nalar kritis warga kadatua perlu diwadahi melalui organisasi, agar mereka berkumpul dan mendiskusikan kebutuhan dan keinginan mereka serta menyampaikannya kepada pemerintah selaku pemangku kepentingan, saat ini organisasi khususnya kepemudaan dan kemahasiswaan sudah ada mulai dari karang taruna desa, hingga organisasi mahasisswa yang mengatasnamakan mahasiswa daerah, harapannya organisasi tersebut bisa mendidik masyarakat dan bergerak, namun ternyata tidak berjalan sesuai dengan yang diharapkan, mereka fakum, tidak menciptakan ruang-ruang berdisusi untuk bagaimana menelaaah masalah-masalah yang ada di daerah.
Maka dari itu, sebagai antitesa dari kefakuman organisasi tersebut, teman-teman merekontruksi kembali bangunan semangat berorganisasi ini, melalui wadah komunitas kampung literasi, disini lebih ditekankan untuk bagaimana menumbuhkan semangat literasi., minat baca, melek digital, ruang diskusi dan nalar kritis serta kepekaan sosialnya dibentuk, agar tercipta pemuda-pemuda tangguh yang siap berkolaborasi dengan masyarakat, berani menantang zaman, melawan jika terjadi ketidakadilan dan pembodohan publik.
*Ditulis oleh La Ode Yusran Syarif, pukul 14:46 WIB saat setelah makan siang dan dikala hujan deras mengguyur.


0 komentar:
Posting Komentar