SELAMAT DATANG DI RUMAH LITERASI KADATUA

Wadah Membaca, Ruang Kreatif, dan Ruang Diskusi bagi masyarakat Kadatua.

Rabu, 13 Maret 2019

Menikmati Panorama di Pantai Miskol Kapoa

Kecamatan Kadatua terdiri dari 10 Desa, dan masing-masing desa punya tempat untuk melepas kepenatan dan menikmati panorama pantai dan angin laut, salah satunya adalah Pantai Miskol, sebutan miskol karena konon dulu sebelum meluasnya jaringan telekomunikasi di Kadatua khususnya di Desa Kapoa, masyarakat kalau ingin berkomunikasi dengan keluarga dirantau, pergi di pesisir pantai karena hanya dipesisir tersebut yang bisa menangkap sinyal telekomunikasi yang dilempar dari tower telkomsel di Kota Baubau,  dari situlah cikal-bakal penamaan pantai MISKOL berasal. hehehehe......

Dulu pantai ini sangat kotor, dan tidak terurus, hingga kira-kira pada tahun 2010an, ada program dari provinsi yang difasilitasi oleh Pemerintah Desa Kapoa untuk membangun taman di areal pantai ini, dipoles sedemikian rupa, didirikan pot-pot bunga, dan tempat duduk, seketika berubah menjadi cantik, sedap dipandang, orang-orang di Kapoa bilang seperti Pantai Kamalinya Kadatua. heheheheh

Gambar mungkin berisi: awan, langit, samudera, luar ruangan dan alam
(Penampakan Pantai Miskol di Desa Kapoa)

Hingga sekarang taman Pantai miskol ini mulai ramai, sudah dibuka lapak warung kopi dan  pisang goreng, dan telah dibangun lapangan volly, pengunjung tak hanya menikmati panorama alam berupa semburan jingga dari ufuk timur dibawah rindang nyiur, tetapi juga bisa bersantai ngopi dan mencicipi pisang goreng bila perlu sambil memutar lagu-lagu reggae....... "Nyanyi lagu pantai,,,, mari kita santai... yeah..yeah.....

Aseekkk sekali Dank.... HEHEHEHHEHEHEHEHHE.....

Kampung Literasi Kadatua Sebagai Wadah Memupuk Nalar Kritis dan Antitesa Terhadap Organisasi yang Mati

"Didiklah rakyat dengan organisasi, dan didiklah penguasa dengan perlawanan"

Sebuah kutipan yang disampaikan oleh Pramodya Anata Toer dalam bukunya Jejak Langkah, menarik karena kalau dilihat dalam konteks kekinian di Kadatua hari ini khususnya, rakyat bungkam ketika pemerintahan di desa hanya melibatkan mereka sebagai subjek pembangunan, program-program dan kebijakan yang dijalankan tidak berdampak besar bagi kemajuan khususnya di bidang ekonomi, masyarakat kadatua masih keluar daerah, pergi merantau karena didaerah sendiri tidak ada sumber-sumber daya yang bisa dikelola.

Olehnya itu, nalar kritis warga kadatua perlu diwadahi melalui organisasi, agar mereka berkumpul dan mendiskusikan kebutuhan dan keinginan mereka serta menyampaikannya kepada pemerintah selaku pemangku kepentingan, saat ini organisasi khususnya kepemudaan dan kemahasiswaan sudah ada mulai dari karang taruna desa, hingga organisasi mahasisswa yang mengatasnamakan mahasiswa daerah, harapannya organisasi tersebut bisa mendidik masyarakat dan bergerak, namun ternyata tidak berjalan sesuai dengan yang diharapkan, mereka fakum, tidak menciptakan ruang-ruang berdisusi untuk bagaimana menelaaah masalah-masalah yang ada di daerah.

Maka dari itu, sebagai antitesa dari kefakuman organisasi tersebut, teman-teman merekontruksi kembali bangunan semangat berorganisasi ini, melalui wadah komunitas kampung literasi, disini  lebih ditekankan untuk bagaimana menumbuhkan semangat literasi., minat baca, melek digital, ruang diskusi dan nalar kritis serta kepekaan sosialnya dibentuk, agar tercipta pemuda-pemuda tangguh yang siap berkolaborasi dengan masyarakat, berani menantang zaman, melawan jika terjadi ketidakadilan dan pembodohan publik.

*Ditulis oleh La Ode Yusran Syarif, pukul 14:46 WIB saat setelah makan siang dan dikala hujan deras mengguyur.

Keresahan untuk Membumikan Literasi di Bumi Kadatua

Beberapa dekade terakhir ini gelombang pelajar Kadatua yang tamat SMA dan melanjutkan kejenjang perguruan tinggi cukup besar, dibandingkan dulu diera 80an hingga awal 2000an, saat itu mindsetnya masih yang instan-instan langsung kerja, diera 80an misalnya mentok di pendidikan Sekolah Pendidikan Guru (SPG/Setara SMA), kemudian era 90 hingga awal 2000an tamat SMA lalu ikut seleksi Polisi/ABRI.

Jika dicermati hal tersebut tidak terlalu  berdampak signifikan bagi kemajuan kampung halaman, yang terasa hanya diinternal keluarga mereka masing-masing ekonomi mereka meningkat karena gaji menjadi guru dan militer tersebut, hingga pada akhirnya seleksi masuk Guru dan Polri/ABRI dibuat ketat oleh pemerintah, perubahan terjadi, banyak anak-anak muda yang tamat SMA pergi merantau dinegeri orang, mencari kerja diantaranya menjadi wirausaha, dan berhasil.

Perlahan Kadatua ditinggalkan, sebagian besar warganya pergi merantau, mengikuti jejak-jejak perantau pertama yang sukses, hingga kira-kira tahun 2008an ekonomi perantau tersebut meningkat, anak-anak mereka memilih untuk melanjutkan ke pendidikan Tinggi. dan disinilah gelombang besar-besaran generasi kadatua  dimulai, mahasiswa Kadatua terus bertambah setiap tahun.

Tetapi ternyata masih menyisahkan problem, mereka-mereka yang telah lulus pendidikan tinggi  mindetnya masih pola lama, setelah lulus pulang kampung magang dan honor di instansi yang sesuai jurusannya ada yang jadi guru SD, SMP, SMA, dan ada juga menjadi honorer tenaga Kesehatan, harapannya tentu pengabdian mereka bisa membawa perubahan dan kemajuan bagi kampung halaman, inovasi dan ide-ide kreatif bisa diapliaksikan, ternyata tidak juga, instansi dimana mereka magang boleh dibilang hanya tempat mengisi kekosongan untuk menanti pengangkatan menjadi seorang pegawai negeri.

Ini memang ironi, tapi mau bagaimana, risiko hidup di Negara berkembang harus bisa survive dan keluar dari zona nyaman, jika negara tidak bisa mengakodomir para lulusan perguruan tinggi untuk mengakses lapangan kerja, seharusnya para sarjana yang sudah digembleng, ditempa, belajar 4 hingga 5 tahun di kampus bisa menciptakan atau membuat hal yang bisa menghasilkan ekonomi. atau bermitra dengan pemerintah desa atau instansi untuk membuat program dan mengimpelemntasikan gagasan-gagasannya untuk memajukan kampung.

Dari situlah salah satu kegelisahan dan Keresahan saya dan teman-teman untuk membuat Kampung Literasi Kadatua, disini literasi diajarkan sejak dini, anak-anak sekolah SD-SMA diperkenalkan dengan bacaan, melek digital, diskusi, dan tontonan yang inspiratif, agar kemampuan kritis, berjejaring, kepekaan sosial, dan kehausan belajar terus tumbuh, dan terasah, hingga mereka nantinya, ketika masuk perguruan tinggi tidak lagi bingung, secara personal sudah dibentuk dan tinggal memoles dengan memilih jurusan yang mau diambil sesuai potensinya dan minatnya.

*Ditulis oleh LA ODE YUSRAN SYARIF, Pukul 03:13 WIB dikala insomnia melanda.

Senin, 11 Maret 2019

Sebait Kesan dan Harapan

Setelah beberapa bulan rencana untuk mendirikan Rumah Literasi Kadatua tertunda, hari ini wacana itu kembali muncul dari teman-teman, dan tentu dengan semangat yang berbeda. Grup WhastApp yang dulu dihuni oleh banyak orang dirasa kurang efektif, dibuat lagi yang baru khusus untuk para penggagas dan anggotanyapun hanya beberapa orang, nanti setelah launching Komunitas "Kampung Literasi Kadatua" baru nantinya teman-teman yang lain akan direkrut kembali.

Dari Hasil percakapan di Grup WA, disepakati bahwa terlebih dahulu mencari lokasi untuk dibangun sekretariat, kemudian dibuat akun media sosialnya, salah satunya Blogspot, olehnya itu blog ini nantinya akan difungsikan, selain buat informasi, juga akan memuat tulisan-tulisan dan opini-opini dari teman-teman yang tergabung dalam komunitas ini.

Semoga rencana ini cepat terealisasi.... Amin...

SALAM LITERASI...!!!